Prabowo Sanggupi Jadi Menteri, Oposisi ‘Makin Lemah’?

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, menyatakan bahwa dirinya siap apabila ditunjuk menjadi menteri di bawah pemerintahan Presiden Jokowi. Hal ini mencuat menyusul pertemuan dirinya dengan Jokowi bersama dengan wakil ketua umum Gerindra, Edhy Prabowo, di Istana Merdeka, kemarin, Senin (21/10. 

Prabowo Siap Jadi Menteri

Prabowo menyatakan bahwa Presiden Jokowi meminta dirinya untuk memperkuat kabinet dan juga keputusan Gerindra adalah “siap jika diminta.” 

“Saya diminta untuk membantu beliau di bidang pertahanan. Jadi beliau tadi memberikan pengarahan dan saya akan bekerja sekeras mungkin untuk mencapai sasaran dan harapan yang ditentukan,” ungkap sosok yang beberapa bulan lalu menjadi rival Jokowi ini. 

Mantan komandan jenderal Kopassus ini juga bersaing dengan Jokowi dalam 2 periode pilpres, yaitu pada tahun 2014 dan 2019. 

Dalam proses politik yang berjalan selama kurang lebih berbulan-bulan, Prabowo selalu berada di kubu oposisi. Bahkan menurut Dr Ahmad Atang, Dosen Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Kupang, Nusa Tenggara Tmur, Prabowo sudah menjadi simbol oposisi. “Posisi Prabowo ini menjadi simbol oposan yang benar-benar luar biasa. Kita berharap sebetulnya, posisi ini dipertahankan untuk mengontrol kekuasaan pemerintahan Jokowi.” 

“Namun dengan Prabowo tergiur mengambil posisi masuk ke gerbong kekuasaan, itu sebenarnya Prabowo sudah memperlemah oposisi,” jelasnya lagi dikutip dari BBC Indonesia. 

Ahmad Atang tak menafikkan kemungkinan di mana Prabowo bakal memberikan warna dalam perjalanan pemerintahan mendatang. Ini bisa jadi suatu langkah yang positif mengingat masyarakat mengalami perpecahan yang masih berhubungan dengan pemilihan presiden kemarin. Akan tetapi, sekali lagi, ia menandaskan kemungkinan lemahnya sistem pengawasan dan sistem keseimbangan. 

“Dengan masuknya Prabowo ke kekuasaan, maka itu kemudian kekuatan-kekuatan oposan baik di partai politik maupun di organisasi-organisasi pendukung jadi lemah karena mereka kehilangan tokoh,” tukasnya. 

‘Dua Matahari’ 

Pasalnya tidak semua pendukung Jokowi senang dengan penunjukkannya Prabowo sebagai anggota Kabinet Jilid II ini. Hasil sebuah survey yang dilansir dari BBC Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas respondes tak setuju apabila Gerindra bergabung dengan koalisi pemerintah dan tak setuju juga jika Prabowo menjadi menteri. 

Menurut Ahmad Atang lagi, Prabowo bisa memainkan peran yang sangat signifikan di kabinet untuk bisa menunjukkan keberadaannya di kekuasaan yang benar-benar memberikan nilai untuk kepentingan bangsa dan negara, namun tentu saja dibarengi dengan risiko. 

“Yang mesti diperhitugkan justru nanti di kabinet itu akan ada ‘dua matahari’ karena Jokowi dan Prabowo itu adalah dua rivalitas di politik. Ketika masuk di kabinet, walaupun Jokowi sebagai presiden namun figur Prabowo ini tak bisa lepas dari kekuatan massa. Karena itu orang merasa kemudian membandingkan kerja Jokowi itu dibayang-bayangi Prabowo,” ungkapnya lagi. 

Konsekuensinya adalah keberhasilan Jokowi boleh jadi kesuksesan Prabowo dan sebaliknya juga. :Ini kemudian melahirkan semacam persepsi publik bahwa di kabinet Jokowi ada 2 figur yang mendominasi keputusan politik,” imbuhnya meyakinkan analisisnya. 

Dalam pidato pelantikannya untuk masa jabatan kedua, hari Minggu, 20 Oktober 2019, Presiden Jokowi menyebutkan bahwa Prabowo Subianto adalah sahabat baik. Jokowi mengundang Prabowo datang ke Istana Negara juga pada hari Senin (21/10) sekitar pukul 4 sore. Di saat itu juga Jokowi mengundang banyak tokoh penting yang disinyalir akan menjadi calon menterinya di Kabinet Jilid II. 

Read More